
Cerita orang pertama · Deni, 38 tahun · pedagang ikan di Medan
Saya berjualan ikan di pasar sejak masih membantu ayah. Pekerjaan ini tidak mewah, tetapi saya selalu tahu cara memutar modal untuk besok pagi. Masalah dimulai ketika saya melihat iklan judi online saat mencari harga barang di ponsel. Saya tertarik karena berpikir tambahan uang bisa membantu renovasi kios.
Awalnya saya memakai sedikit keuntungan harian. Ketika kalah, saya mengambil modal untuk membeli stok esok hari. Saya menutupi kekurangan dengan meminjam ke beberapa orang, lalu memakai sebagian pinjaman itu untuk bermain lagi. Dalam beberapa bulan, saya tidak tahu lagi mana uang usaha dan mana uang pribadi.
Saya paling takut saat pemasok menagih pembayaran dan saya tidak bisa menjawab kapan uang tersedia. Suatu pagi saya berdiri di kios yang hampir kosong sambil menghitung utang lewat pesan. Saya sadar tidak bisa terus menyelesaikan masalah dengan berjudi.
Saya bercerita kepada kakak yang biasa membantu pembukuan pasar. Ia tidak menjanjikan utang akan cepat lunas. Kami duduk di meja kecil dan membuat tiga kolom: jumlah kewajiban, tanggal jatuh tempo, serta uang kebutuhan keluarga yang harus dijaga.
Saya kemudian berhenti menerima pesan promosi, membatasi akses digital, dan membuat catatan penjualan harian. Saya menghubungi beberapa pemberi pinjaman resmi untuk menanyakan opsi pembayaran sesuai kemampuan, bukan berjanji membayar dengan uang yang belum ada.
Minggu pertama sungguh memalukan karena harus mengakui keadaan kepada orang yang saya kenal. Namun setiap angka yang tertulis membuat saya merasa sedikit lebih tenang. Saya berhenti menganggap seluruh utang sebagai satu gunung besar yang hanya bisa diselesaikan lewat kemenangan.
Sekarang kios saya pelan-pelan terisi lagi. Saya masih punya cicilan, tetapi modal belanja tidak saya campur dengan pengeluaran lain. Saya belajar bahwa mencari jalan keluar dimulai dari angka yang nyata, bukan mimpi mendapatkan uang tanpa bekerja.
Langkah yang bisa dipelajari
Cerita ini menggambarkan pentingnya menyadari dampak, mengurangi pemicu, memprioritaskan kebutuhan keluarga, dan mencari dukungan. Proses setiap orang berbeda dan tidak ada jaminan perubahan terjadi seketika.
